Warga Kali Pasir Harapkan Penggusuran Yang Manusiawi

FT 1

JAKARTA: Drama penggusuran warga di kawasan Kampung Pulo nampaknya menimbulkan trauma sendiri di benak masyarakat Kali Pasir, yang sama-sama menempati pinggiran Kali Ciliwung. Ratusan aparat Satpol PP yang dibantu oleh personel polisi dan tentara, saat akan mengeksekusi kawasan Kampung Pulo, memang sempat terlibat bentrok dengan warga yang menyebabkan sejumlah warga menderita luka.

Proses penggusuran seperti itu, menurut masyarakat Kali Pasir kurang manusiawi. Oleh sebab itu, dalam acara dialog dengan senator yang digelar di aula mini KUA Kecamatang Menteng, mereka meminta agar proses penggusuran dilaksanakan dengan baik, rapih, tertib, dan aman. Hal ini tentu saja hanya bisa dilakukan, bila masyarakat mendapat sosialisasi yang cukup, dan ganti rugi yang memadai.

“Kami sadar bahwa tujuan Pak Gubernur dalam program normalisasi Kali Ciliwung adalah membebaskan Jakarta dari banjir. Dan konsekuensinya rumah kami pasti digusur. Menggusur rumah tidak salah. Tapi tolong caranya yang baik dan manusiawi. Jangan main gusur saja,” kata Sobari, ketua RW 08.

Ia juga menambahkan agar Gubernur Ahok belajar dari mantan Gubernur Jokowi dalam proses menertibkan warga. Ia mencontohkan penertiban pedagang tanah Abang berjalan aman dan tidak menimbulkan konlfik antara aparat dengan warga, “Coba lihat penertiban pedagang Tanah Abang itu. Kita ingin prosesnya dilakukan dengan cara seperti itu, bukan seperti yang di Kampung Pulo. Berbeda kan, antara penertiban pedagang tanah Abang di jaman Pak Jokowi dengan penertiban warga Kampung Pulo jamannya Pak Ahok?” keluhnya.

Hal senada juga diamini oleh masyarakat Kali Pasir. Mereka sangat menyayangkan pelaksanaan penertiban yang berujung pada bentrok fisik antara aparat dan masyarakat.

“Kami di sini tidak ingin terjadi keributan. Karena yang jadi korban kami-kami juga. Tolong perlakukan kami dengan baik. Jangan lagi menggunakan cara-cara intimidasi. Saat ini saja misalnya, informasi seputar penggusuran masih simpang siur, baik proses penggusurannya, maupun pelaksanaannya. Ini kan membuat kami resah, tidak bisa tidur nyenyak. Jangan-jangan besok tiba-tiba rumah kami dibuldoser,” keluh Hendra yang mengaku tinggal di Kali Pasir sudah bertahun-tahun.

Di samping kesimpangsiuran berita, masyarakat Kali Pasir juga mengeluhkan minimnya sosialisasi dari pemerintah seputar pengusuran untuk pembangunan jalan inspeksi di sepanjang Kali Ciliwung tersebut.

“Ada yang bilang jalan inspeksi 7,5 meter. Dan pada tahun 70-an sudah dibebaskan 7,5 meter. Kalau dari yang ada sekarang ditampah 2,5 meter lagi, dari yang sudah ada, berarti totalnya bukan 7,5 meter dong, tapi 10 meter. untuk masalah ini saja, saya belum melihat pemerintah DKI belum menurunkan petugas untuk meng-clear-kannya. Padahal kan harusnya sudah, jadi masyarakat bisa lebih tenang,” imbuh Latif warga yang lain.[TFC]