Tinggalkan Nasdem, Hary Tanoe Gabung ke Hanura

Ketua Umum Partai Hanura Wiranto (kanan) bersalaman dengan Hary Tanoesoedibjo (kiri) saat bergabungnya secara resmi Hary Tanoesoedibjo ke partai Hanura di Kantor DPP Partai Hanura, Jakarta, Minggu (17/2).

Hary Tanoe (kiri) merayakan bergabungnya bersama partai Hanura yang dipimpin oleh Wiranto (kanan)

Menjelang pemilihan umum 2014, peta konstelasi politik di tanah air terus bergerak dengan dinamis. Salah satu bukti konkret pergerakan tersebut terjadi setelah CEO Media Nusantara Citra Group yang sebelumnya menjadi Ketua Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Hary Tanoesoedibjo, resmi bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Minggu (17/2/2013).

Melalui jumpa persnya dengan sejumlah wartawan di kantor DPP Partai Hanura di Menteng, Jakarta, pengusaha berusia 47 tahun ini menjelaskan enam alasannya bergabung ke partai yang dipimpin oleh Wiranto tersebut. Pertama karena sosok mantan Panglima ABRI ini dianggapnya dapat diajak berdiskusi dan memiliki pengendalian diri yang baik. “Kami memiliki chemistry yang cocok,” ujar Hary Tanoe. Alasan berikutnya adalah adanya kesamaan visi dan misi untuk membuat bangsa ini lebih baik lagi ke depannya, konsistensi partai yang selalu bertindak sebagai partai oposisi di pemerintahan, dikenal sebagai partai yang bersih dari masalah korupsi, juga kompak dan solid. Alasan terakhir adalah soal moral dan sinergi yang baik. Tidak peduli orang tersebut berasal dari partai lain sebelumnya, semua bisa dilebur jadi satu dalam Hanura.

Dalam kesempatan yang sama, Wiranto mengemukakan kegembiraannya atas keputusan Hary Tanoe bergabung ke partainya. Mantan Pangab ini mengatakan bahwa saat ini Hanura memiliki kekuatan yang semakin besar untuk melakukan pembaharuan politik dengan masuknya bos media tersebut. Di partai yang didirikan pada 14 November 2006 ini, Hary Tanoe akan menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura.

Seperti diketahui, sosok orang terkaya nomor 29 dalam “Daftar 40 Orang Terkaya Indonesia” versi Majalah Forbes tahun 2012 itu menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Dewan Pakar Nasdem pada 21 Januari 2013 silam. Adanya perubahan struktur kepengurusan di tingkat dewan pengurus pusat (DPP), termasuk keinginan Surya Paloh menjadi ketua umum menjadi alasan mundurnya Hary saat itu.