Poros Tengah Jilid II Dinilai Hanya Fatamorgana

diskusi-polcom

Jakarta – Poros Tengah Jilid II dinilai publik perlu dibentuk untuk Pemilu 2014. Namun dua partai pentolan Poros Tengah tahun 1999 memandang wacana itu hanya sebatas fatamorgana yang kelewat sederhana.

“Kalau kita sekarang membayangkan poros tengah jilid II terlalu mensimplifikasi. Karena sudah banyak berubah dibanding Jilid I tahun 1999 dulu,” kata Ketua DPP PAN Muhammad Najib di Hotel Whizz, Jl Cikini Raya, Jakarta, Minggu (23/2/2014).

Najib membandingkan kala 1999, partai Islam kompak mengusung Abdurrahman Wahid, karena waktu itu Gus Dur dipandang diterima semua kelompok masyakarat. Kini, tahun 2014, peta politik sudah banyak berubah, jangankan berkoalisi dengan partai Islam, bahkan definisi ‘partai Islam’ itu sendiri sudah semakin kabur.

“Kelompok nasionalis semakin mendekati religiositas. Dan partai religius semakin nasionalis. Batas-batas itu sudah cair. Masyarakat juga semkin rasional dan pragmatis, tak lagi melihat ideologi partai melainkan bisa tidak memberikan jawaban terhadap tuntutan. Tuntutan pemerataan, dan pertumbuhan pembangunan,” kata Najib.

Setali tiga uang dengan PAN, PBB memandang koalisi partai Islam lewat Poros Tengah II juga sebagai wacana angan-angan. Bahkan, bukan tak mungkin koalisi berdasar ideologi itu akan membelenggu capres yang diusung. Karena rakyat ingin capres yang benar-benar universal, bukan terbatas oleh ideologi tertentu.

“Mencari capres alterntif partai Islam hanyalah fatamorgana. Kita tidak perlu membut jalan sempit dengan memunculkan capres partai Islam. Membuat isu ini adalah membunuh capres itu sendiri,” kata Ketua DPP PBB Sukmo Harsono.

sumber: Detik