Pernyataan Kontroversial Daming Sanusi Terkait Kasus Pemerkosaan

Foto: Hakim M. Daming Sanusi

Foto: Hakim M. Daming Sanusi

Nasional РNama Daming Sanusi tiba-tiba menjadi pusat pemberitaan di media cetak maupun elektronik beberapa hari terakhir karena pernyataan kontroversialnya terkait masalah seputar kasus pemerkosaan. Dalam pernyataannya,  pria kelahiran Bulukumba 1 Juni 1952 ini mengatakan bahwa pelaku pemerkosaan tidak perlu dihukum mati karena pelaku dan korban sama-sama menikmati tindakan tersebut.

Pernyataan ini menjadi masalah besar ketika dikeluarkan saat berlangsungnya sidang fit & proper test dengan anggota DPR Komisi III. Sontak saja, pernyataan Daming ini menuai protes dari banyak pihak di negeri ini, terutama kaum perempuan yang jelas-jelas merasa dilecehkan martabatnya oleh pernyataan kontroversial Daming soal pemerkosaan tersebut.

Dengan keluarnya pernyataan tersebut, banyak pihak menuntut agar nama Daming dicoret dari daftar seleksi calon Hakim Agung, karena pernyataan Daming yang menganggap bahwa saat terjadi tindakan perkosaan, korban pemerkosaan juga ikut menikmati, adalah pernyataan yang selain sangat menghina kaum perempuan, pernyataan ini juga sangat berbahaya, karena secara tidak langsung pernyataan ini dapat membuat para calon pelaku potensial pemerkosaan (sexist) menjadi semakin termotivasi untuk melancarkan aksi bejat mereka.

Berbahaya bukan hanya bagi kaum perempuan saja, tetapi juga bagi masyarakat. Bisa dibayangkan betapa bejat pemikiran dan moral hakim ini. Betapa berbahayanya jika seorang hakim seperti ini mengadili suatu perkara pemerkosaan. Betapa hancurnya sistem peradilan jika suatu vonis tentang kasus pemerkosaan diputuskan oleh hakim yang memiliki moral buruk seperti ini.

Tentu menjadi sesuatu yang sangat miris bila ada hakim yang berpikir jika ada kasus pemerkosaan yang terjadi sampai akhir, dan kemudian itu dinyatakan sebagai tindakan ‘enak sama enak’ yang menguntungkan pelaku dan korban, karena si pelaku mencapai klimaks dengan adanya barang bukti berupa ceceran sperma diselangkangan seorang korban, lalu hal tersebut lantas meringankan vonis yang dijatuhkan kepada pelaku pemerkosaan tersebut. Benar-benar mengerikan.

Hakim adalah garda terakhir bagi keadilan. Hakim adalah benteng terakhir penjaga kemaslahatan manusia. Hakim adalah orang terakhir yang menentukan hitam putihnya negara, bangsa, masyarakat dan manusia. Hakim dituntut memiliki sensitifitas dan pemahaman yang luas mengenai manusia. Bisa dibayangkan jika Indonesia memiliki hakim-hakim model seperti M. Daming Sanusi SH.

Seharusnya dia bisa menjawab lebih serius sebagai bentuk rasa empati terhadap maraknya kasus perkosaan akhir-akhir ini. Di India baru saja ada kasus pemerkosaan dan sudah menjadi berita internasional. Itu belum termasuk kasus pemerkosaan yang juga marak terjadi di negeri sendiri, seperti kasus pemerkosaan terhadap anak kelas 5 SD yaitu RI yang sampai saat ini belum ditemukan adanya titik terang mengenai siapa pelakunya.

Setiap orang memiliki ‘topeng’, setiap orang selalu memiliki ‘rahasia’ di dalam dirinya, ‘topeng’ atau ‘rahasia’ ini bisa memiliki dampak positif maupun negatif bagi orang yang bersangkutan tergantung dari pengalaman psikologis dan sosial yang pernah dialami.

Secara psikologi, hakim seharusnya memiliki mental yang kuat. Namun kadang-kadang lolos hakim psikopat. Bahkan melihat wajah dan gerak-gerik hakim Daming ini, ada kemungkinan dia adalah psikopat dan berkepribadian ganda. Salah satu ciri orang berkepribadian ganda adalah suka mengeluarkan pernyataan di luar kelaziman.

Sebenarnya seorang psikopat dan berkepribadian ganda biasanya sangat lihai menyembunyikan kondisi alam pikiran mereka yang sesungguhnya, namun dari hasil riset psikologis mengenai perilaku psikopat yang pernah dilakukan sebelumnya, menunjukkan bahwa terkadang para psikopat dapat saja menunjukkan perilaku asli mereka di dalam situasi dan kondisi tertentu yang umumnya terjadi dalam kondisi ketika mental mereka sedang berada dibawah tekanan.

Seperti halnya pada saat fit & proper test, kemungkinan besar mental Daming sedang dalam tekanan kala itu, tekanan yang dapat membuat ia menjadi terlalu gembira (over-excited) atau mungkin juga terlalu terbebani (over-burdened) oleh pertanyaan-pertanyaan dalam ujian fit & proper test yang diajukan oleh Dewan Penguji Komisi III. Sehingga tanpa Daming sadari, ia kemudian menunjukkan sifat asli dibalik topeng yang selama ini ia pakai.

 

Berikut Biodata dan Riwayat Pendidikan & Pekerjaan dari Hakim M. Daming Sanusi

 

BIODATA

Nama Lengkap : Dr. Muhammad Daming Sanusi, DH, M.Hum

Tempat dan Tanggal Lahir : Bulukumba 1 Juni 1952

Agama : Islam

Status Pernikahan : Menikah

Pendidikan Terakhir : S3

Profesi : Hakim

Instansi : Pengadilan Tinggi Banjarmasin

Jabatan : Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin

 

PENDIDIKAN

S1 : Hukum Pidana Kriminologi Universitas Hasanuddin (1977)

S2 : Ilmu Hukum Universitas Tarumanegara (2002)

S3 : Ilmu Hukum Ketatanegaraan Universitas Padjajaran (2009)

 

PENGALAMAN KERJA

1983-1984 : Calon Hakim Pengadilan Negeri Makassar

1984-1990 : Hakim Pengadilan Negeri Sinjai

1991-1996 : Hakim Pengadilan Negeri Pangkajene

1996-1997 : Wakil Ketua Pengadilan Negeri Maros

1997-2000 : Ketua Pengadilan Negeri Barru

2000-2003 : Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

2004-2005 : Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bekasi

2005-2006 : Ketua Pengadilan Negeri Palembang

2006-2006 : Pengadilan Tinggi DKI Jakarta

2006-2009 : Hakim Tinggi dgn Penugasan di Mahkamah Agung RI sbg Panitera Muda Perdata

2009-2010 : Pengadilan Tinggi Surabaya

2010-2012 : Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Medan

2012-sekarang : Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin