Pro dan Kontra Pemindahan Ibukota

Bunderan H.I yang terendam Air.

Bunderan H.I yang terendam Air.

 

Opini Redaksi – Banjir Jakarta kali ini memang bukan yang terburuk, tetapi kekacauan yang ditimbulkan dari bencana ini sungguh luar biasa. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan bahwa kerugian pengusaha akibat banjir mencapai ratusan miliar dalam dua hari pertama banjir. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kantor-kantor yang tutup dan karyawan-karyawan yang diliburkan.

Selain itu, banjir bahkan menimbulkan dampak yang cukup memalukan. Contohnya, saat banjir menggenangi wilayah Istana Negara. Padahal, dalam saat yang sama Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menerima kedatangan Presiden Argentina, Cristina Kirchner, Kamis (18/1/2013).

Bencana banjir besar yang melanda ibukota belakangan ini semakin menguatkan wacana mengenai pemindahan ibukota negara ini, dari pulau Jawa ke pulau lain yang dianggap memiliki potensi minim dari bencana.

Karena Jakarta dianggap sudah tidak relevan untuk menjadi ibukota negara dan dibutuhkan kota baru yang dapat menjadi pusat pemerintahan negara di masa yang akan datang yang tentu saja harus bebas banjir. Kabar yang santer beredar mengenai calon lokasi baru ibukota adalah di kota Palangkaraya, provinsi Kalimantan Tengah.

Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat beberapa riset yang telah dilakukan oleh ahli tata kota dan kalangan akademisi telah menyimpulkan, bahwa posisi pulau Kalimantan yang berada di tengah-tengah wilayah Indonesia, dan memiliki luas mencapai 30 persen dari luas keseluruhan wilayah NKRI, dianggap akan semakin memudahkan jalur perekonomian serta industri.

Selain itu, Kalimantan selama ini dikenal sebagai wilayah yang sangat jarang sekali mengalami bencana ekstrim. Pemindahan ini tentu saja memunculkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Ada yang setuju, dan ada pula yang menentang mengenai wacana tersebut. Pihak yang setuju beralasan bahwa pemindahan ibukota dapat berdampak positif bagi perkembangan sektor ekonomi dan pengembangan daerah-daerah tertinggal di wilayah tengah dan timur Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Pemindahan ibukota ke Pulau Kalimantan akan mengurangi konsentrasi kepadatan penduduk di daerah Jawa. Karena konsentrasi penduduk yang terlalu tinggi di pulau Jawa membuat ibukota menjadi tidak nyaman serta membuat kemajuan di daerah di luar Pulau Jawa menjadi terhambat.

Dengan berpindahnya ibukota, maka akan terjadi pemerataan arus migrasi penduduk, apalagi wilayah Kalimantan termasuk wilayah yang dianggap memiliki daya dukung yang kuat untuk menghidupi manusia dengan jumlah yang besar. Inilah yang menjadi dasar pemikiran orang-orang yang setuju akan wacana pemindahan ibukota.

Namun di sisi lain, pihak yang menolak pemindahan ibukota beralasan hal tersebut hanya akan menambah masalah baru di daerah yang akan dijadikan ibukota pengganti. Karena tentu saja dengan pindahnya ibukota, maka arus pergerakan manusia dalam urbanisasi pun akan ikut berubah menuju ibukota yang baru tersebut. Hal ini akan menimbulkan masalah jika tidak dibarengi dengan persiapan yang matang di berbagai aspek.

Jakarta menjadi salah satu kota dengan tingkat polusi tinggi dan padat karena minimnya lahan hijau serta menumpuknya para pendatang, yang berakibat pada makin meningkatnya pengangguran dan angka kejahatan. Sekarang ada wacana pemindahan ibukota, yang mungkin hanya akan mengarahkan keadaan ibukota yang baru tersebut menjadi seperti keadaan Jakarta saat ini.

Karena ketika wilayah Kalimantan sudah menjadi sebuah ibukota provinsi, maka akan banyak hutan berubah menjadi bangunan beton. Dan jika hutan sudah menyusut, akan banyak ekologi yang rusak atau bahkan musnah. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Kalimantan telah ditetapkan sebagai paru-paru dunia. Hal ini berdasar dari begitu luasnya lahan hutan lengkap dengan berbagai macam spesies langka didalamnya.

Selain itu, keseimbangan ekosistem di pulau yang juga dikenal dengan sebutan borneo ini dinilai juga sangat berpengaruh terhadap kondisi iklim bumi. Iklim sangat tergantung pada jumlah luas wilayah hijau di negara-negara yang memiliki ekosistem hutan lebat di berbagai belahan dunia.

Oleh karena hal inilah, maka banyak sekali pakar peneliti flora dan fauna kelas dunia sering melakukan riset di hutan Kalimantan dengan naungan dan pembiayaan berbagai badan lingkungan hidup dunia yang bertujuan menjaga agar keanekaragaman hayati hutan didalamnya tidak musnah.

Bicara tentang hutan di provinsi Kalimantan, sama artinya berbicara dengan peradaban suku pedalamannya, yaitu suku Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan yang hidupnya bercocok tanam. Hidup sederhana dengan bergantung dari hasil alam. Jika hutan yang dijadikan rumah dan mata pencarian mereka di babat habis, lantas mereka akan hidup dimana dan makan dari apa? Sementara mereka mungkin saja masih tidak atau belum terbiasa menjalani hidup dengan didalam peradaban modern.

Jakarta mungkin sudah tidak layak lagi dijadikan sebuah ibukota, namun bukan berarti ketidaklayakan ini dijadikan alasan untuk merusak atau mengusur peradaban lainnya. Karena, jika wacana pemindahan ibukota ke Kalimantan menjadi kenyataan, maka warna hijaunya hutan yang menyelimuti pulau Kalimantan akan pudar, tergantikan oleh silaunya atap-atap gedung tinggi pencakar langit. Polusi pun akan meningkat. Dan ekologi dari spesies-spesies langka perlahan-lahan punah.

Kedua opini pro dan kontra mengenai wacana pemindahan ibukota ini memang sama-sama ada benarnya jika dilihat dari kedua sisi. Namun, sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa memindahkan ibukota adalah suatu keputusan yang luar biasa besar bagi pemimpin bangsa ini. Untuk itu, sangat diperlukan pertimbangan matang serta berbagai masukan, saran, dan kritik yang membangun dari berbagai pihak yang memiliki kapabilitas untuk memberikan masukan yang bermanfaat demi membuat suatu keputusan yang bijaksana dan dapat dipertanggungjawabkan.

Semoga wacana pemindahan ibukota bisa lebih dipertimbangkan lagi. Agar kepindahan tersebut tidak membawa dampak dan efek yang baru pada daerah yang dipilih, agar jangan sampai kepindahan ini hanya memiliki makna memindahkan bencana dari ibukota lama ke ibukota baru.