Perempuan Cantik dan Kesalahan Fathanah

vKLrK5CHda

Kasus korupsi dan pencucian uang yang dilakukan oleh Ahmad Fathanah menambah deretan panjang aksi culas dan serakah para politikus. Tindakan Fathanah itu-pun menyeret sejumlah nama perempuan-perempuan “cantik” dalam pusaran korupsi. Akibatnya, beberapa nama perempuan tersebut akhirnya menjadi sorotan dan bulan-bulanan media.  Bahkan, nama-nama perempuan itu setiap hari kian bertambah. Mulai dari mahasiswi, model hingga kalangan selebritis.

Anggapan miring kepada kaum perempuan sontak menyeruak seiring dengan munculnya nama-nama dan fakta baru perihal penyuapan dari ahmad Fathanah yang terbilang cukup fantastis. Bagaimana tidak, perempuan-perempuan disekeliling Ahmad Fathanah itu mendapatkan berbagai macam barang-barang mewah dan juga uang dalam jumlah besar yang diduga hasil dari pencucian uang.

Jika dicermati, hampir semua wanita yang berada di sekitar Ahmad Fathanah adalah perempuan-perempuan cantik dan bukan perempuan sembarangan. Mereka berasal dari kalangan artis, penyanyi, model, hingga kalangan terdidik seperti mahasiswi. Dari sini semakin jelas jika perempuan memang menjadi sesuatu yang “penting” dalam dunia politik.

Sebagai Alat

Tentu sudah menjadi hal yang mafhum dalam dunia politik selalu diwarnai dengan suap-menyuap dan juga tindakan korupsi. Dan sosok “perempuan cantik” seolah selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Perempuan-perempuan cantik banyak dimanfaatkan sebagai pemulus aksi suap dan pemerlancar tindakan korupsi. Bahkan perempuan-perempuan cantik itu tak jarang juga menjadi bagian dari bentuk penyuapan itu sendiri, hingga munculah istilah gratifikasi seks. Oleh karena itulah, tidak salah jika simbol yang selama ini digunakan sebagai bentuk cobaan dalam kehidupan manusia adalah “Harta, Tahta dan Wanita”.

Namun, terlepas dari adanya perempuan-perempuan cantik yang menjadi bagian dari tindakan suap-menyuap dan juga korupsi. Pemberitaan media massa yang mengitu gencar tentang keterlibatan perempuan dalam kasus Ahmad Fathonah tentu kian menyudutkan kaum perempuan. Perempuan digambarkan sebagai sosok manusia yang gampang disuap dengan berbagai kemewahan. Selain itu perempuan juga bisa dijadikan “alat” untuk penyimpanan hasil korupsi.

Jika demikian kenyataanya, tentu perempuan-lah yang akhirnya dirugikan. karena muncul generalisasi bahwa perempuan adalah sosok yang dekat dengan suap dan korupsi. Padahal masih banyak perempuan baik yang benar-benar menjaga diri dan kehormatannya. Selain itu generalisasi ini juga berlaku bagi perempuan yang memiliki paras cantik. Seolah mereka adalah tempat yang tepat untuk memuluskan tindakan korup, suap menyuap, dan juga penggelapan uang.

Sungguh tidak adil jika pemberitaan yang berkembang hanya menyudutkan kaum perempuan. Logika patriarkhi yang telah membudaya seolah selalu melindungi sosok laki-laki. Hal itu dapat dilihat dari pemberitaan media massa selama ini yang cenderung selalu memberitakan perihal perempuan-perempuan disekitar ahmad Fathanah daripada memberitakan tersangka utamanya, Ahmad Fathanah.

Harus difahami bahwa keterlibatan perempuan dalam kasus tersebut bukanlah sekedar kesalahan perempuan semata. Akan tetapi hal itu terjadi lantaran ulah laki-laki yang bernama Ahmad Fathanah. Oleh karena itu, pemberitaan yang berkembang harusnya menitikberatkan kepada Ahmad Fathanah, bukan justru mengekspose kehidupan perempuan-perempuan yang terlibat dibelakangnya.

Kesalahan Ganda

Dengan tertangkapnya Ahmad Fathanah serta dengan keterlibatan perempuan disekelilingnya juga kian memberikan penjelasan kepada rakyat tentang persepsi bahwa, semua partai politik adalah sama, tak peduli partai itu berbasis islam ataupun tidak.  Sekarang terbukti jika partai politik hanya dijadikan jalan untuk memperkaya diri sendiri dan orang-orang disekitarnya dengan jalan korupsi.

Namun, dalam kasus Ahmad Fathahan ini tentu terbilang cukup parah. Sebab dirinya merupakan representasi partai politik berbasis Islam yang selama ini dianggap sebagai partai bersih dan santun (PKS). Ditambah lagi dengan namanya yang merupakan gabungan dari nama dan juga sifat Nabi, yakni “Ahmad” dan “Fathanah”. Hal ini juga sekaligus menambah anggapan negatif masyarakat tentang Islam dalam dunia politik.

Dalam kasus ini, Ahmad Fathanah telah membuat dua kesalahan sekaligus terhadap partainya, PKS. Pertama, ia telah menciderai tagline partai yang selama ini dikenal santun dan bersih. Kedua, Ahmad Fathanah juga telah mempermalukan partai dengan munculnya perempuan-perempuan cantik disekitarnya. Terlebih lagi dengan penangkapannya bersama  Maharani di kamar Hotel Le Meridien jakarta beberpa waktu lalu. Publik tentu akan menghujat. Sebab, agama Islam yang selama ini digunakan PKS sebagai nafas pergerakan ternyata telah dikotori oleh ulah Ahmad Fathanah.

Sampai saat ini, masih buram dan samar, mana yang benar dan mana yang salah. Masyarakat semakin dibuat bingung dengan pemberitaan-pemberitaan yang berkembang. Namun ada hal yang tidak buram, yakni masyarakat sudah jenuh dengan berbagai kasus-kasus suap-menyuap dan korupsi. Satu kasus belum selesai, mucul kasus baru dengan lakon dan cerita yang berbeda. Namun satu hal yang pasti dan sama, yaitu proses pengadilan yang bertele-tele dan hukuman yang singkat dan terasa tidak adil. Kita hanya bisa berharap kasus-kasus korupsi dan penyuapan bisa segera lenyap dari bumi Nusantara. Dan sebagai kaum perempuan sudah saatnya menyatakan “Say No to Gratifikasi, Korupsi, dan Penyuapan”.