Menggagas Ospek Tanpa Kekerasan

MOS-OSPEK-di-Indonesia

Oleh: Misbahul Ulum

Beberapa pekan terakhir, seluruh mahasiswa baru diberbagai perguruan tinggi melaksanakan Ospek (Orientasi dan Studi Pengenalan Kampus). Ospek adalah gerbang awal sebelum mahasiswa menapaki kegiatan perkuliahan. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan mahasiswa baru dengan budaya kampus dan lembaga-lembaga kampus. Namun kenyataannya berbeda, Ospek kerapkali dijadikan ajang untuk melegalkan praktik kekerasan, seperti yang terjadi dibeberapa kampus belakangan ini. Bahkan, Ospek telah berubah menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa baru. Tidak jarang moment ini hanya dijadikan sebagai masa perpeloncoan semata.

Untuk itulah, Ospek harus didesain dengan sangat hati-hati agar tujuannya tidak melenceng. Ospek harus diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat mendidik. Ospek memang harus dirancang sebaik mungkin mengingat kegiatan ini merupakan gerbang awal untuk mengarahkan mahasiswa baru menjadi apa yang mereka inginkan. Melalui Ospek, mahasiswa baru akan diperkenalkan berbagai macam lembaga-lembaga kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa, sampai lembaga penyalur bakat dan minat. Selain itu, mahasiswa baru juga dilatih untuk menjadi pemimpin, memupuk kedisiplinan hingga berlatih ketahanan mental.

Namun, dewasa ini, Ospek justru telah mengalami pergeseran makna dan disorientasi tujuan. Ospek telah berubah menjadi wahana yang salah kaprah. Moment ini justru hanya melahirkan penjajah-penjajah baru dalam kampus. Logika senioritas yang masih tertata rapi dan semangat “balas dendam” yang berapi-api menyebabkan praktik kekerasan tumbuh subur dikalangan mahasiswa. Mahasiswa lama (senior) kerapkali memperlakukan mahasiswa baru dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

Dunia perguruan tinggi telah ternodai. Kampus yang seharusnya menjadi “kawah candradimuka” dalam mencetak pemimpin masa depan, telah berubah menjadi “kawah dasamuka” yang hanya melahirkan aktor-aktor anarkhis.

Kekerasan

Jika demikian kenyataanya. Tidak salah jika Opsek disebut sebagai masa balas dendam dan masa perpeloncoaan mahasiswa baru. Sebab, yang paling mendominasi adalah praktik “perpeloncoan”. Atas nama “pembinaan mental terhadap yunior”, mahasiswa lama (senior) memperlakukan juniornya dengan cara-cara yang tak masuk akal. Mulai dari perintah menggunakan aksesoris dari bahan-bahan bekas, pungutan liar, perintah membawa makanan yang tidak masuk akal, sampai penggojlokan secara fisik. Nah, jika pada masa Ospek saja mahasiswa baru hanya dikenalkan dengan aneka hal yang tidak masuk akal ini. Lantas mau dibawa kemanamasa depan  mereka? Haruskah mereka menjadi generasi yang berotak sampah?

Kegiatan perpeloncan yang dibungkus dengan kedok “Orientasi Pengenalan kampus” ini sesungguhnya adalah kekerasan terselubung, terstuktur, dan terjadi secara turun-temurun. Tindakan ini telah menjadi siklus tahunan yang selalu terulang. Hingga akhirnya melahirkan dendam turunan. Junior yang saat ini mengalami “perpeloncoan”, tentu akan mempraktekkannya hal yang serupa pada generasi yang akan datang. Begitu seterusnya. Jika lingkaran kekerasan ini tidak segera di akhiri, tentu akan semakin menambah daftar panjang kekerasan di kampus.

Aksi kekerasan apapun bentuknya, siapapun pelakunya dan apapun motifnya, adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Apalagi jika dilakukan oleh mahasiswa, generasi yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan dan sekaligus penerus estafet kepemimpinan bangsa. Sungguh tidak pantas.

Peran Perguruan Tinggi

Oleh karena itu, kondisi ini  harus segera dihentikan. Ospek harus didesain sebaik mungkin guna melahirkan mahasiswa yang unggul. Seluruh kegiatan Ospek harus diorientasikan untuk memperkenalkan mahaiswa baru akan hakekat, fungsi dan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa; kaum intelektual, kaum akademis, yang mendasarkan seluruh tindakannya pada petimbangan moral dan etika yang benar. Selain itu, bagi mahasiswa lama (senior) harus bisa mencerminkan sikap kebesaran jiwa dan kematangan berfikir. Mereka harus bisa menjadi teladan nyata bagi mahasiswa baru.

Untuk menekan aksi kekerasan mahasiswa ini, perguruan tinggi berkewajiban menciptakan formula baru dalam pelaksanaan Ospek agar nantinya terlahir generasi yang menjunjung tinggi kekeluargaan dan kesetiakawanan. Bukan justru melahirkan jurang pemisah antara senior dan junior. Perguruan tinggi juga harus sunguh-sungguh dalam memantau jalannya kegiatan ini agar tidak disalahgunakan oleh mahasiswa-mahasiswa senior (lama) yang hanya ingin melampiaskan dendam turunan.

Selain itu, Perguruan tinggi juga perlu menindak tegas oknum mahasiswa yang melakukan aksi-aksi kekerasan. Jajaran Perguruan Tinggi harus menciptakan iklim kampus yang damai dan sejuk serta menutup rapat tempat tumbuhnya saluran-saluran kekerasan.

Sebagai penghasil kaum intelektual, Perguruan Tinggi juga harus melaksanakan fungsinya sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan melibatkan seluruh komponen mahasiswa. Tri Dharma perguruan tinggi inilah yang seharusnya menjadi muara dari seluruh kegiatan Ospek.

Mahasiswa baru harus diperkenalkan bahwa dirinya adalah calon pemimpin bangsa yang akan dibentuk menjadi insan yang konsen dan peduli terhadap pendidikan, selalu berupaya melakukan pengembangan keilmuan yang ia miliki, serta berusaha mengabdikan diri sepenuhnya pada masyarakat. Mendidik, mengabdi dan mengembangkan masyarakat adalah intisari Tri Dharma Perguruan tinggi.  Nilai-nilai inilah yang seharusnya diajarkan kepada mahasiswa baru dan benar-benar terpatri dalam sanubari segenap insan kampus.

Jika mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan hanya mengedepankan praktik kekerasan, lantas bagaimana dengan kondisi bangsa dan negara dimasa mendatang. Akankan segala permsalahan bangsa akan diselesaikan kekerasan juga? Wallahu ‘alam bi al-Shawab