Mencari Negarawan Sejati

presiden Soekarno

presiden Soekarno

Tahun 2013 adalah tahun politik. Banyak partai politik yang mulai memasang nama-nama yang nantinya diproyeksikan sebagai pemimpin negara, baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif (presiden). Namun, dari sekian banyak nama yang muncul ke permukaan, belum muncul sosok baru. Semua nama yang muncul masih diisi oleh wajah-wajah lama. Barangkali masyarakat sudah sangat jenuh dengan kondisi perpolitikan di negeri ni. Nama-nama yang nantinya mengisi bursa calon pemimpin negara masih didominasi wajah lawas yang sarat dengan berbagai persoalan di masa lalunya.

Menyongsong suksesi kepemimpinan nasional 2014, penting kiranya untuk merumuskan kriteria pemimpin yang bisa diterima semua kalangan. Lebih dari itu juga sososk pemimpin yang mampu mengemban tugas sebagai pemimpin negara dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta penegakan hukum yang selama ini mandul.

Salah satu kriteria yang sejauh ini dirasa mampu mengemban tugas kepemimpinan nasional adalah seserang negarawan. Yakni seseorang yang memiliki semangat juang tinggi guna kepentingan negara, bukan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Negarawan yang memahami Indonesia secara utuh.

Negarawan Sesungguhnya

“Negarawan adalah negarawan”. Inilah kalimat yang cocok untuk menggambarkan sosok negarawan sejati yang nantinya bisa memimpin negara. Sosok yang dengan tulus bergerak demi keutuhan negara dan bangsa. Ia bukanlah politisi yang selalu menjilat dan mengumbar janji saat pemilu. Ia juga bukan pejabat negara yang lebih banyak tutup telinga saat jutaan rakyat menjerit karena berbagai ketidakadilan. Apalagi koruptor yang selalu merampok kekayaan negara.

Namun, negarawan yang sesungguhnya adalah jutaan rakyat Indonesia yang setiap hari bercururan keringat, banting tulang, yang masih rela menyisihkan hasil kerjanya untuk membayar pajak kepada negara guna pembangunan.

Boleh jadi mereka tak pernah mengerti makna negarawan atau bahkan tak pernah punya keinginan untuk dianggap sebagai negarawan. Dengan penuh ketulusan, setiap tahun mereka selalu membayar pajak untuk pembangunan negara. Lebih hebatnya lagi mereka tak pernah menuntut apa-apa dari negara. Disaat pajak yang mereka bayarkan dikorupsi, digelapkan oleh orang-orang yang mengaku “negarawan”, mereka tak pernah marah. Disaat hasil pajak yang seharusnya digunakan untuk pembangunan tetapi ternyata pembangunan juga masih terbengkalai, mereka juga tak pernah mengeluh. Mereka tetaplah mereka yang selalu bekerja dengan ketulusan dan kerjakeras.

Para negarawan sejati tak pernah melakukan kalkulasi untung rugi untuk negara. Segala daya dan upaya selalu dicurahkan untuk kemajuan bangsa dan negara. Lihatlah betapa pahlawan kemerdekaan telah merelakan darahnya hanya untuk tegaknya Indonesia. Para negarawan itu tak pernah berharap mendapatkan sesuatu dari negara, justru berusaha memberikan segalanya untuk negara.

Barangkali jumlah negarawan yang duduk dalam struktur kekuasaan negara saat ini bisa dihitung dengan jari. Atau bahkan sudah tidak ada. Memang saat ini banyak sekali atau hampir seluruh pejabat negara ingin terlihat sebagai negarawan. Setiap hari ia selalu khutbah tentang perjuangan untuk memperbaiki negara, tetapi lupa akan perjuangannnya sendiri. Lebih parah lagi para koruptor yang tanpa malu berbicara tentang etika dan moral tetapi lupa dengan etika dan moralnya sendiri.

Para “negarawan gadungan” ini telah menipu ibu pertiwi. Dengan gagah berani mereka duduk di kursi kekuasaan kemudian menjadi pelacur bagi negara asing. Dengan kedok kebijakan pasar global, mereka menjadikan negara ini bak sapi perah bagi pengusaha asing. Mereka bagaikan penjilat yang tak tahu diri. Seolah mereka lupa bahwa mereka telah digaji oleh jutaan rakyat Indonesia.

Negarawan bukanlah simbol belaka. Negarawan juga bukan status sosial. Menjadi negarawan berarti siap mengabdikan diri untuk kepentingan negara. Siap memberikan segala untuk negara bukan siap mengambil segala dari negara. Beberapa kriteria itulah yang harus ada pada sosok pemimpin mendatang. Harapan kita bersama, semoga tahun politik 2013 ini mampu melahirkan sosok negarawan sesungguhnya. Bukan negarawan gadungan. (Misbahul Ulum)