Malioboro, Jalan Penuh Senyum yang Kini Dipertanyakan

DSC_0018

Dulu sekali sebelum menjadi jalan yang ramai seperti saat ini Jalan Malioboro adalah jalan yang sepi, yang tak seperti sekarang ini di mana lalu-lalang para wisatawan baik domestik maupun mancanegara ada. Di jalan ini hiruk pikuk perdagangan ada dan menggeliat penuh semangat. Dulu jalan ini hanya untuk masyarakat yang hendak pergi ke keraton atau komplek kawasan indische seperti Benteng Vredeburg, atau loji-loji di sekitaran kantor pos besar.

Keberadaan etnis Tionghoa yang ada di selatan Pasar Beringharjo, atau lebih tepatnya daerah ketandan inilah yang kemudian lambat laun mendongkrak laju perekonomian di jalan malioboro ini. Laju perekonomian yang tadinya berpusat di Pasar Beringharjo kemudian berkembang menyebar ke arah utara, menyambung sampai dengan Tugu Yogyakarta.

Saat ini sungguh Malioboro menjadi pusat kegiatan yang bisa di katakan tidak pernah tidur. Di siang sampai malam hari kita bisa berjalan-jalan dan membeli beraneka ragam barang yang menarik mulai dari batik, cenderamata, pakaian, emas, atau bahkan miniatur sepeda atau mobil-pun dapat kita temukan di sana. Jika kita pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi. Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu “Yogyakarta” milik Kla Project akan menjadi pengalaman yang sangat membekas di hati.

Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi, “Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan.” Kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.

Saat ini, sejak kejadian yang menimpa Yogyakarta di mana banyak aksi-aksi kekerasan terjadi orang banyak yang lantas bertanya-tanya, ” Amankah saya pergi ke yogyakarta?”¬†Inilah kiranya yang jadi tugas pemerintah kota dan masyarakat secara bersama-sama agar orang tidak merasa takut lagi untuk datang ke Yogyakarta dan mengunjungi jalan Malioboro dengan nyaman dan tidak bertanya-tanya tentang masih adakah senyum di jalan ini. (Chipriant. Sumber yogyes.com)