Kirab Monumental Adeging Projo Kadipaten Pakualaman

Kirab Adeging Projo Kadipaten Pakualaman

Pelataran Sewondanan depan Kadipaten Pakualaman sudah dipenuhi oleh masyarakat Yogyakarta. Ribuan anak-anak cukup mendominasi. Pedagang jajanan juga bersiap di sekitaran Sewondanan. Pintu Gerbang Pakulaman masih tertutup rapat dijaga oleh beberapa abdi dalem. Minggu sore 30/6/13 digelar kirab sebagai peringatan Adeging Projo Kadipaten Pakualaman.

Kirab ini merupakan peristiwa penting yang digelar sebagai saksi sejarah Pakualaman. Menjadi tonggak sejarah bagian dari keistimewaan Yogyakarta. “Mengukuhkan kembali citra Yogyakarta sebagai pemangku budaya sekaligus pelestarian kearifan lokal ditengah budaya mancanegara yang kian berkembang” kata Pak Dony Surya Megananda selaku kerabat Pakualaman.

Adeging Projo Pakualaman adalah jumenengan Pangeran Notokusumo bergelar KGPAA Paku Alam pertama tanggal 22 Juni 1812 kemudian pengukuhan wilayah kadipaten bersamaan kerajaan Inggris pada bulan Maret 1813. Maka peringatan ini mencatat usia 201 tahun, sejarah ini yang perlu dicatat oleh warga Yogyakarta sebagai kirab yang monumental.

Diharapkan dengan peringatan ini Yogyakarta sebagai benteng kebudayaan mampu menjaga sikap andap asor sehinggap terciptanya suasana seimbang sekaligus selaras. “Dengan proyeksi tentu saja mampu menumbuhkan nasionalisme kebangsaan di Indonesia” tambah Pak Dony.

Kirab diawali pukul 15.00 wib dengan vorijder pembuka jalan, disusul barisan Paskibraka DIY, bregodo gajah KRKB Gembira Loka, bregodo Lombok Abang, bregodo Plangkir/Dragonners, Suronggomo, kavaleri Pakualaman, kereta Keraton, bregada Bantul, Gunungkidul, Sleman, Kulonprogo, Kota Yogyakarta dan ditutup oleh ambulans Puskesmas dan PMI. [EAW]