Kebisuan Pulo Cemeti

Pulo Cemeti

Terik matahari di Yogyakarta pada Selasa siang 4/6/13 jam 10.44 wib cukup menyengat. Panasnya sampai terasa ke kulit ubun-ubun kepala. Sinar matahari justru membuat bayangan yang masuk menyelinap di sela-sela bangunan kokoh dan angkuh itu. Bangunan tua menjulang tinggi dengan tekstur batu bata yang beberapa sisinya sudah hancur karena usia.

Sebagian besar bangunan memang runtuh dan berlumut. Pemandangan kekokohan itu tampak dari halaman teater arena yang dahulu bagian dari bekas Pasar Hewan Ngasem Yogyakarta. Bangunan ini masih menjadi satu komplek dengan Taman Sari di sisi utara.

Jika melintas masuk ke tengah di halaman Pasar Ngasem, memori diingatkan kembali dahulu Pulo Cemeti adalah istana air milik Sultan. Sejarah yang menyematkan pulau ini sebagai tempat peristirahatan keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadingningrat. Sekaligus menjadi tempat pengintaian atau untuk menyaksikan air kanal yang menggenangi sekitar bangun tersebut.

Beranjak masuk ke Pulo Cemeti ini di sisi sebelah barat akan dijumpai Sumur Gumuling. Bangunan tua yang awalnya sebagai tempat ibadah. Terdapat lima tangga di tengah sumur yang mempunyai filosofi lima rukun Islam. Pengunjung Sumur Gumuling ini diharapkan untuk bisa menjaga kebersihan dan tutur kata agar saling terjaga keharmonisan, kata seorang bapak yang berjaga di sebelah kotak sumbangan seiklasnya. Kotak tersebut nantinya kembali untuk jasa kebersihan. [EW]