Kartini dan Perlindungan Perempuan

hudawadinilhaq.wordpress.com

hudawadinilhaq.wordpress.com

Membahas sejarah perjalanan perempuan di Indonesia memang tidak bisa meninggalkan sosok Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Ia adalah tokoh emansipasi perempuan yang hidup di tengah keterkungkungan budaya patriarki dan d ibawah tekanan penjajahan. Dengan lantang ia menyuarakan keadilan serta kemerdekaan bagi kaum perempuan di Indonesia.

RA Kartini adalah satu dari sekian banyak perempuan pribumi yang memilih jalan untuk berjibaku dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi perempuan. Ide perjuangannya berpangkal dari kondisi masyarakat, khususnya perempuan kala itu yang tidak terdidik, selalu termarginalkan, serta tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Hak-hak sosial-politik perempuan seperti jaminan pendidikan dan juga kesetaraan acapkali terabaikan. Bagi Kartini, perempuan harus menjadi insan yang cerdas dan terdidik, agar tidak selalu tertindas.

Kegigihan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan tentu harus dijadikan inspirasi untuk selalu mengupayakan perlindungan bagi perempuan. Cita-citanya untuk mengeluarkan perempuan dari lubang kebodohan, keterkungkungan, serta penindasan harus selalu diperjuangkan.

Namun, sepeninggal Kartini, advokasi terhadap hak-hak perempuan seolah mengalami kemandegan (stagnan). Hak-hak perempuan untuk memperoleh penghargaan dan kemerdekaan acapkali terabaikan. Persoalan tentang perempuan-pun kurang mendapatkan perhatian serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Akhirnya, berbagai penderitaan dan kasus kekerasan yang dialami kaum perempuan seolah tak pernah berujung. Mulai dari kasus kekerasan hingga pelecehan terhadap perempuan.

Tugas Mulia

Perjuangan yang dilakukan oleh Kartini sebenarnya adalah wujud “pemberontakan” perempuan atas ketidakadilan yang selama ini membelenggu mereka. Paradigma masyarakat selalu beranggapan  jika perempuan adalah makhluk yang lemah, perempuan adalah manusia lapis kedua setelah laki-laki. Padahal sebenarnya perempuan adalah mahluk yang sangat kuat. Bahkan, jauh lebih kuat daripada laki-laki.

Diakui atau tidak, perempuan memiliki tugas yang jauh lebih berat dari apa yang selama ini difahami oleh masyarakat. Hanya saja, terkadang tugas itu hanya dipandang sebelah mata. Tugas mulia itu seolah sudah menjadi tugas bawaan yang tak bisa ditawar lagi oleh perempuan.

Banyak orang yang menganggap tugas yang diemban perempuan seperti mengandung, melahirkan, serta menyusui adalah kodrat alamiah yang suka tidak suka, mau tidak mau harus diterima dengan “legawa” oleh perempuan. Mereka tidak bisa menolak. Akhirnya, Karena sudah menjadi kodrat, dianggap bukan lagi persoalan yang perlu diperhatikan dengan seksama.

Padahal, jika dianalisis lebih mendalam, tugas melahirkan, mengandung serta menyusui adalah tugas yang bukan remeh. Sepintas memang terlihat ringan dan biasa saja, akan tetapi, itu semua membutuhkan perjuangan, kesadaran serta kesabaran yang sangat tinggi.

Bayangkan saja di saat perempuan mengandung. Berat tubuhnya menjadi naik. Untuk melakukan segala aktivitas haruslah berhati-hati. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal. Mobilitasnya juga semakin terbatas. Ia harus sabar dan kuat dalam menjalani rutinitas dengan keadaan perut berisi selama kurang lebih sembilan bulan. Tentu bukan waktu yang singkat. Belum lagi ketika melahirkan, nyawa sebagai taruhannya. Mau tidak mau, perempuan harus siap dengan resiko terburuk saat persalinan yaitu kematian.

Perlindungan Perempuan

“Dalam Tugas yang besar terdapat hak yang besar pula”. Perempuan seharusnya mendapatkan hak khusus karena memiliki tugas khusus. Oleh karena itulah, memberikan penghormatan dan penghargaan kepada kaum perempuan adalah sebuah keniscayaan. Bahkan keharusan. Perempuan berhak mendapatkan perlakukan yang istimewa karena ia memiliki tugas yang istimewa.

Salah satu wujud penghormatan dan penghargaan bagi perempuan yang mungkin bisa kita lakukan adalah memahami dan menyadari bahwa perempuan memiliki segudang permasalahan yang khas dan unik. Yang permasalahan-permasalahan itu membutuhkan solusi yang unik dan hanya perempuan sendiri yang faham. Untuk itulah, perempuan harus diberikan ruang khusus agar segala permasalahan mereka benar-benar terselesaikan dengan tuntas.

Salah satu langkah untuk mewujudkan ruang bagi perempuan adalah dengan menciptakan rumusan peraturan yang mengatur permasalahan perempuan secara lebih detail, utuh dan menyeluruh. Sebuah peraturan yang lahir dari kaum perempuan, oleh perempuan, dan untuk perempuan. Misalnya saja peraturan tentang hak-hak kehamilan, masa menstruasi, masa melahirkan, sampai masa menyusui. Yang melalui peraturan itu, hak-hak perempuan dalam wilayah publik dan domestik akan benar-benar terlindungi.

Perempuan harus mendapatkan perlakuan yang istimewa, karena tugas yang ia emban juga sangat istimewa. Jika ternyata tugas berat itu hanya dipandang sebelah mata dan tidak ada penghargaan terhadap hak-hak perempuan, maka advokasi terhadap hak-hak perempuan harus selalu dilakukan. Perjuangan RA Kartini harus dilanjutkan. (Misbahul Ulum)