Fotografer Peduli Budaya Dan Wisata

Fotografer Peduli Budaya Dan Wisata

Fotografer Peduli Budaya Dan Wisata

Berbicara tentang dunia fotografi, saat ini begitu banyak yang turun berkecimpung di sana. Banyak yang memilih fotografi sebagai hobby atau bahkan secara khusus berbisnis di bidang ini. Hal ini selain karena bidang ini selalu menawarkan hal yang menarik juga adanya kemudahan mendapatkan piranti fotografi saat ini dengan variatif harga yang semakin terjangkau.

Di yogyakarta saja ada begitu banyak kelompok yang mendalami dunia ini. Hal ini bisa kita temui di titik 0, sebelah selatan malioboro di setiap akhir pekan. Di sana akan kita temui kelompok-kelompok fotografi yang mengabadikan moment-moment di sekitaran kantor pos besar atau di sepanjang jalan malioboro.

Hari ini (16/6) secara khusus team berita otonomi yogyakarta mengikuti sebuah kelompok fotografi di kabupaten barat Yogyakarta yakni Kulon Progo. Sebuah kelompok fotografi yang menamakan diri “geblek” Kulon Progo. Geblek memang menjadi makanan khas kabupaten di Yogyakarta ini, bahkan menjadi ikon dalam bentuk batik“geblek renteng” yang di gagas oleh Bupati Hasto. Bedanya geblek dalam kelompok ini merupakan kepanjangan dari Gerombolan Bermain Lensa Dan Kamera.
Yang berbeda dari kelompok ini adalah bahwa kelompok ini mengutamakan kebersatuan kelompoknya, saling berbagi dan belajar. Kelompok ini juga menempatkan budaya dan kesenian daerah pada khususnya sebagai obyek utama meski pada saat tertentu ada juga sesi fun hunting dengan obyek foto seorang model.

Seperti hari ini (16/6) secara sengaja panitia mengambil tempat di sebuah bendungan sungai progo, Kalibawang, Kulon Progo. Saat di konfirmasi tentang kenapa di pilih tempat ini salah seorang panitia Rohmadu Inuhayati mengatakan, “ Bendungan ini menurut cerita penduduk sekitar memiliki makna tersendiri dikarenakan bendungan ini pada masa lalu oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX digunakan sebagai cara agar penduduk tidak dijadikan sebagai pekerja paksa oleh pemerintah Belanda yang biasa kita kenal dengan romusha. Lebih dari itu, tempat ini pada tahun 80an menjadi tempat yang ramai dikunjungi sebagai tempat wisata dan saat ini sudah mulai terbengkalai tak terurus. Harapannya dengan mengambil tempat ini menjadi latar memotret bisa menggugah kembali potensi yang sudah mulai pudar. Foto sesi yang dihadiri tak kurang dari 30 fotografer baik pemula ataupun profesional dibidangnya ini tak ayal juga mengundang perhatian para penduduk sekitar. Terlebih dengan hadirnya empat model yang sengaja diundang oleh panitia.

Sementara itu di sela-sela sesi foto ini salah seorang pendiri Geblek Kulon Progo ini Aloysius Rahadian Ajisoko mengatakan,“kegiatan memotret model ini hanya sebagai mediasi belajar dan berkumpulnya anggota sedang tujuan pokoknya adalah mencari bakat-bakat fotografer muda juga model-model baru. Mengangkat kebudayaan, Human Interest untuk menggugah jiwa sosial, mengangkat tempat-tempat wisata dan daerah adalah tujuan utamanya”. Kami juga terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung sejauh terjangkau tempatnya untuk aktif dalam kegiatan budaya dan wisata”, ungkapnya lebih lanjut.

Berita otonomi secara khusus juga mendukung bentuk kegiatan Fotografi ini, sehingga menyediakan kolom tersendiri bagi para visitor untuk mengirimkan karya-karya fotonya. Kiriman hasil karya anda bisa anda kirim ke alamat redaksi@beritaotonomi.com atau beritaotonomijogja@gmail.com. Kami akan mencoba memilih dan memuat foto-foto anda terutama yang mengandung makna sosial, kepedulian lingkungan, seni budaya, dan wisata. Hal ini sebagai dukungan kami mengangkat potensi-potensi di mana saja. Di akhir setiap bulan kami akan memilih salah satu foto terbaik anda dan akan kami berikan penghargaan. (chipriant-yk)