Buku dan Jurnal Ilmiah

“Buku adalah jendela dunia”

“Buku adalah jendela dunia”

“Buku adalah jendela dunia”. Dengan membaca buku, seseorang akan mampu mengetahui berbagai informasi bagaikan menggenggam dunia. Namun, meski buku dianggap sebagai jendela dunia, peringatan pada hari buku nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Mei nampaknya tidak begitu populer di kalangan masyarakat. Peringatan hari buku hampir tidak pernah diperingati dengan gegap gempita.

Diakui atau tidak, selama ini masyarakat Indonesia masih berada pada posisi sebagai pembaca buku semata. Sangat jarang yang memiliki kedasaran untuk menjadi penulis buku. Produktivitas penulis di Indonesia juga kalah jauh jika dibandingkan dengan penulis-penulis di negara-negara asing. Bahkan minat masyarakat dalam membaca buku di Indonesia sangat jauh di bawah negara-negara lain.

Budayawan Taufiq Ismail pernah memberikan perbandingan antara jumlah buku (buku sastra) yang dibaca oleh pelajar di Indonesia dengan pelajar di negara-negara lain. Kesimpulannya, ternyata terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Pelajar di Amerika rata-rata membaca buku sebanyak 32 buah, pelajar Malaysia sebanyak 6 buah buku, pelajar Thailand sebanyak 5 buah buku, dan pelajar Indonesia hanya 0 buah buku selama masa belajar di SMA.

Keadaan seperti ini tentunya sangat mengkhawatirkan. Ditengah kompetisi dunia yang kian besar, Indonesia tentu tak boleh diam dan menjadi bangsa terbelakang. Budaya tulis menulis dan budaya gemar membaca harus mulai menjadi prioritas utama, khususnya kalangan pelajar dan juga mahasiswa.

Jurnal Ilmiah

Berkaitan dengan hal ini, pemerintah sebenarnya telah mewacanakan kebijakan “jurnal ilmiah” sebagai langkah untuk meningkatkan budaya tulis menulis, khususnya dikalangan mahasiswa. Namun, kebijakan itu sepertinya hanya sebatas pepesan kosong semata. Sebab, kebijakan yang rencananya akan diberlakukan sejak Agustus 2012 itu ternyata tak urung terwujud hingga hari ini.

Harus diakui bahwa wacana publikasi jurnal ilmiah ini adalah ide yang sangat tepat ditengah lesunya penulisan karya ilmiah dan juga ditengah rendahnya minat pelajar dan mahasiswa dalam membaca dan menulis. Lebih dari itu, kebijakan ini juga menjadi pemompa spirit insan akademis untuk menghasilkan karya-karya yang berkualitas yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Munculnya kebijakan publikasi jurnal ilimiah ini setidaknya memiliki dua alasan besar. Pertama, guna memperbaiki dan mempertinggi derajat masyarakat Indonesia dimata negara-negara lain. Seperti diketahui tingkat penulisan ilmiah di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Kemendikbud merilis sepanjang tahun 1996-2011 jumlah karya ilmiah Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal internasional hanya 12.871 buah. Ini tertinggal jauh dengan Malaysia yang mencapai 53.691 buah. Bahkan menurut data survei SCImago juga disebutkan bahwa jumlah publikasi hasil penelitian di Indonesia selama 13 tahun (1996–2008) hanya sekitar 9.194 tulisan.

Kedua, kebijakan muncul juga karena keprihatinan pemerintah atas minimnya semangat dalam tulis menulis serta menjamurnya aksi palgiarisme. Selain minim karya, ternyata bangsa Indonesia juga terjangkit penyakit plagiasi. Bahkan, seorang guru besar di daerah Sumatera harus dicabut gelar guru besarnya lantaran terbukti melakukan plagisasi dalam menyusun karya tulis.

Harus diakui memang, selama ini dunia perguruan tinggi di Indonesia sangat minim karya tulis dalam bentuk buku, baik dari dosen maupun mahasiswa. Dalam perkuliahan sehari-hari misalnya, mahasiswa hanya diberikan tugas membuat makalah saja tanpa ada usaha dari dosen untuk menguji validitas referensi (buku rujukan) yang digunakan dalam menyusun makalah. Akibatnya, mahasiswa menjadi malas membaca dan menulis. Cukup dengan copy paste dari internet, semua tugas terselesaikan dengan mudah dan cepat. Dan lebih parahnya lagi, banyak dosen yang melakukan hal serupa.

Karya tulis ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi yang selama ini dijadikan barometer kelulusan mahasiswa, nyatanya juga tidak cukup mampu menjawab kelesuan penulisan dan peningkatan kualitas lulusan perguruan tinggi. Bahkan hal itu telah menjadi komoditas baru yang layak untuk diperjualbelikan. Akibatnya banyak jasa-jasa penulis bayaran yang justru kian membodohkan pelajar dan mahasiswa.

Budaya Tulis

Salah satu aspek terpenting guna meningkatkan kualitas pelajar dan mahasiswa adalah budaya baca dan tulis. Mahasiswa harus mulai bergerak dari oral culture menuju write culture. Budaya tulis-menulis harus menjadi identitas khas pelajar dan mahasiswa. Bahan bacaan yang dibaca juga harus buku-buku berkualitas. Dan untuk membentuk budaya tulis menulis itu, tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses pembelajaran yang intensif.

Membangkitkan tradisi menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa memang menjadi keharusan, terlebih dalam rangka untuk menciptkan karya-karya bekualitas dalam bidang keilmuan. Melalui kebiasaan tulis menulis itulah, diharapkan akan berlanjut menghasilkan karya dalam bentuk buku. Dengan demikian, generasi bangsa mendatang akan lahir menjadi generasi yang unggul, generasi yang produktif dan generasi yang cinta karya tulis. Sehingga peringatan hari buku nasional bisa menjadi moment yang lebih berkesan dan dirayakan dengan gegap gempita berlimpah karya.