Berlindung di Kebijakan Bank Indonesia

Berlindung Di Balik Kebijakan Bank Indonesia

Berlindung Di Balik Kebijakan Bank Indonesia

Sepanjang bulan Mei 2013, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar kembali tertekan. Berbagai kendala seakan menghalangi penguatan nilai tukar Rupiah sejak awal 2013. Mulai dari sinyal terhentinya stimulus moneter Amerika Serikat, pelemahan volume ekspor hingga ancaman inflasi domestik. Satu-satunya katalis yang bisa diandalkan untuk menjaga performa valuta Indonesia adalah bank sentral. Serangkaian bukti perbaikan ekonomi di AS membuat investor khawatir kalau The Fed mengurangi stimulus moneter lebih cepat dari rencana sebelumnya. Produk Domestik Bruto AS tumbuh 2,5% di kuartal pertama 2013, sementara tingkat pengangguran turun 7,5%. Adapun tingkat kepercayaan konsumen meningkat dengan laju inflasi hanya sebesar 1,5% di bulan April. Tingkat pengangguran dan laju inflasi belum mendekati batas toleransi The Fed, pertemuan bank sentral di bulan Mei mengisyaratkan kesiapan AS untuk mengubah pembelian obligasi sesuai perkembangan situasi. Indikasi penarikan stimulus akan meningkatkan daya tarik Dollar AS di tengah iklim pelonggaran moneter yang diberlakukan oleh European Central Bank (ECB) dan Bank of England BOE).

Investor juga tidak begitu terkesan dengan surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar $300 juta yang tercatat di bulan Maret. Hal ini disebabkan oleh penurunan volume impor tanpa adanya perbaikan perfoma ekspor sehingga sulit tercipta keseimbangan neraca secara berkelanjutan. Tingkat ekspor bahkan memburuk setelah tercatat minus 13.03% di bulan Maret sekaligus melanjutkan penurunan 4.5% yang terjadi di bulan Februari.

Outlook ekspor masih buruk akibat resesi zona Euro, perlambatan ekonomi China, India dan rendahnya harga komoditas global. Sulit berharap akan terjadi penguatan Rupiah di saat kondisi ekspor mengecewakan, karena sektor ini merupakan salah satu sumber tersedianya valas di dalam negeri. Di sisi lain,penurunan volume impor kemungkinan hanya bersifat sementara karena masih tingginya minat investasi dunia usaha dan konsumsi masyarakat terhadap produk luar.

Rupiah semakin kehilangan daya tarik pasca munculnya kabar Standard & Poor’s (S&P) merevisi turun outlook peringkat kredit Indonesia dari positif menjadi stabil. Hal ini seakan mengingatkan investor akan resiko berinvestasi jika Indonesia gagal melakukan reformasi struktural. Salah satunya dengan mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan memperbaiki neraca keuangan pemerintah. Sebelum diputuskannya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, pasar mengalami ketidak pastian yang memberi sentimen negatif karena proses pengkajian yang berlarut-larut.

Pelaku pasar uang juga dikecewakan oleh hasil pertemuan Bank Indonesia (BI) bulan Mei lalu, yang tidak memberi sinyal pengetatan moneter dalam waktu dekat. Perlambatan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2013 menjadi alasan utama otoritas. Kini kegeliasahan investor terpusat pada sikap toleran BI dalam menghadapi tekanan inflasi. Walaupun laju inflasi sempat melambat di bulan April namun potensi tekanannya terbilang tinggi karena harga minyak dunia stabil di atas $90 per barel dan efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Bank Indonesia kemungkinan akan menjaga suku bunga acuan di level 5.75%, sampai diketahui kebijakan apa yang akan ditempuh pemerintah untuk menyiasati beban anggaran. Peluang kenaikan suku bunga fasilitas simpanan Bank Indonesia (fasbi) masing-masing sebesar 25 basis poin (bp) di kuartal III dan IV terbuka lebar. Asumsi ini mengacu pada tren kenaikan inflasi menjelang bulan Ramadhan dan akhir tahun. Hal ini tentunya bisa terwujud dengan dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Secara umum Rupiah masih berpotensi untuk menguji level psikologis 10.000 per Dollar AS tahun ini, di tengah pelemahan kinerja ekspor, inflasi tinggi dan indikasi pengurangan stimulus moneter The Fed. Pelemahan yang terjadipun diharapkan bertahap dan terkendali. Terlebih lagi bank sentral mempunyai akses ke cadangan devisa yang bisa dipakai untuk mencegah volatilitas mata uang yang berlebihan. Semoga BI tetap akan mentoleransi penurunan kurs valuta hingga taraf tertentu untuk membantu peningkatan daya saing produk ekspor dan meredam laju konsumsi barang impor. (ctn)