Bentara Upacara Adat dalam Kreasi Festival

Upacara Jumedhuling Mahesa Suro

Pagi yang cerah dan lalu lintas cukup padat di jalan melingkar memadati seputaran alun-alun. Alun-alun Utara Yogyakarta pada Minggu 23/6/13 jam 08.00 wib tampak ribuan orang berbusana adat Jawa, dengan berbagai ragam identitas dan simbol pada panji-panji yang berkibar. Rombongan kontingen ini berasal dari ke 5 wilayah kabupate Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengikuti Festival Bentara Upacara Adat 2013.

Festival ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta di Alun-Alun Utara halaman depan Pagelaran Keraton. Ada 10 kontingen dari berbagai kabupaten dan kota Yogyakarta. Dalam festival seluruh kontingen berlomba untuk menampilkan upacara adat dari masing-masing daerah. Cerita tersebut juga berasal dari legenda, mtios maupun ritual yang berasal dari daerah para peserta kontingen.

Kontingen dari Dusun Srigading Sanden Bantul tampak rombongan membawa patung kerbau berwarna hitam. “Kerbau tersebut bernama Mahesa Sura, legenda ini lahir dari situasi keprihatinan masyarakat akan penderitaan. Masyarakat lalu bersemedi di Pantai Samas Bantul lalu munculah Mahesa Sura ini yang kemudian membantu mengolah sawah pertanian dan kesejahteraan rakyat sekitar Pantai Samas”, ungkap Pak Tarman dalam menceritakan mitos Mahesa Sura. Upacara ini biasanya di gelar masyarakat Sanden setiap malam 1 Suro. “Maka disebut dalam upacara adat ini dengan nama Jumedhuling Mahesa Suro (Kerbau yang muncul pada Malam 1 Suro)”, tambahnya.

Semua peserta dari 10 kontingen diberikan waktu selama 30 menit untuk mempertunjukan upacara adat ini di diepan para juri, tamu undangan dan penonton. “Dalam festival ini nantinya diambil yang terbaik karena akan memperebutkan piala tetap Gurbernur Daerah Istimewa Yogyakarta”, kata Drs. Gandung Djatmiko M.Pd salah satu dari tim juri. [EAW]