Artis dan Orientasi Partai Politik

polhukam.komp.as

polhukam.komp.as

Demokrasi yang kian liberal telah melahirkan pesta demokrasi yang liberal pula. Pesta demokrasi yang liberal itu akhirnya membuat kompetisi untuk memperebutkan kekuasaan menjadi semakin berat dan mahal. Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, maka diperlukan figur-figur yang telah memiliki popularitas tinggi di kalangan masyarakat. Ada yang menggunakan figur-figur tokoh masyarakat. Dan yang paling marak dilakukan oleh partai politik saat ini adalah dengan merekrut para artis. Merekrut para artis menjadi jalan instan karena para artis telah memiliki popularitas tinggi di kalangan masyarakat.

Popularitas politisi dalam sistem Pemilu yang kian liberal memang menjadi salah satu jalan awal untuk meraih elektabilitas. Para artis itu dijadikan sebagi vote getter untuk mendulang suara partai. Akhirnya banyak partai yang dengan senang hati menerima para artis untuk bergabung menjadi calon legislatif, maupun dicalonkan sebagai eksekutif.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa artis yang memang memiliki prestasi cemerlang. Mereka paham betul dengan mekanisme dan dinamika perpolitikan, selain itu juga memiliki latarbelakang akedmik yang memadai. Dan umumnya, mereka masuk dalam dunia politik bukan karena keartisannya, melainkan karena memiliki keinginan untuk berpolitik dengan kemampuan yang telah ada pada dirinya.

Namun, fenomena saat ini sungguh menimbulkan tanda tanya. Banyak artis yang tanpa meiliki kemampuan sengaja menceburkan diri kedalam dunia politik. Hal itu memang bukanlah sebuah kesalahan, karena setiap orang memiliki hak politik masing-masing. Akan tetapi jika hal ini terus terjadi dalam jangka waktu yang panjang, tentu hanya akan mengakibatkan kerusakan. Sebab, para artis tersebut tidak memiliki kemampuan yang mumpuni dalam memperjuangkan ideologi politik partai. Mereka belum teruji dalam menjalani dinamika politik yang keras.

Harus disadari bahwa para artis yang terpilih dan duduk di pemerintahan saat ini sesungguhnya terpilih bukan murni karena elektabilitas mereka yang tinggi, tetapi karena mendapatkan limpahan dari calon-calon yang lain (yang tidak jadi) yang sebagian besar adalah kader-kader partai. Dengan demikian, partai sesungguhnya telah mengorbankan kader sendiri dan memberikan jalan kepada artis yang notabene bukan kader partai untuk masuk ke dalam partai. Jika ini terjadi terus-menerus, partai akan semakin kehilangan orientasi karena ideologi politik partai tidak bisa dijalankan oleh pejabat politik yang mereka rekrut.

Hingga pada akhirnya yang akan bertahan adalah partai politik yang mau berjuang keras dalam melakukan kaderisasi dan tetap menjadi idealisme politik untuk hidup bersih dan terus memperjuangkan aspirasi rakyat. (Misbahul Ulum)