AM Fatwa Prihatin Atas Kondisi Bangsa

IMGP3629

JAKARTA: Sebagai wujud tanggung jawab merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa, AM Fatwa kembali menggelar sosialisasi empat pilar MPR RI di Gedung Aula Putra Fatahillah Kampus Stebank Sjafruddin Prawiranegara Jakarta Pusat, pada tanggal 22 hingga 25 Juli 2015 silam.

Dalam acara yang dihadiri oleh ratusan tokoh masyarakat se-kecamatan Johar Baru ini, AM Fatwa selaku anggota DPD RI Senator dari DKI Jakarta menyampaikan keprihatinannya terhadap realitas sosial, ekonomi, politik, dan budaya bangsa saat ini. Menurutnya, budaya konsumerisme yang menjangkiti masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas, ditambah dengan menipisnya rasa cinta terhadap produk lokal, secara tidak langsung telah menyumbang saham bagi terpuruknya perekonomian bangsa. Oleh sebab itu, pada forum tersebut, Fatwa mengajak segenap masyarakat untuk meningkatkan kecintaan terhadap produk-produk domestik, karena hal itu bukan saja dapat menyelamatkan industri lokal dari ancaman gulung tikar, tapi juga bisa meningkatkan roda perekonomian nasional.

Politisi senior itu juga memperingatkan peserta sosialisasi untuk bekerjasama secara aktif, dan melakukan langkah-langkah kongkrit dalam membentengi generasi muda dari ancaman ekspansi budaya asing. “Tidak semua budaya asing sesuai dengan nafas dan semangat budaya Nusantara. Kita harus cerdas dalam memilah dan memilih budaya asing, agar hanya mengambil yang baik-baik saja. Contoh, budaya hidup tertib, rapih, dan bersih yang diterapkan masyarakat Barat, layak untuk diadopsi. Tapi budaya pergaulan bebas yang berkembang di kalangan masyarakat sekuler, tidak baik untuk kita terapkan di sini,” kata salah satu pendiri Partai Amanat Nasional Tersebut.

Lebih lanjut, Ketua Badan Kehormatan DPD RI tersebut menegaskan agar seluruh komponen bangsa untuk menyukseskan program Trisakti pemerintah, yang salah satunya adalah berkepribadian dalam kebudayaan. “Kebudayaan Nusantara seperti gotong-royong, ramah terhadap tamu, gemar menolong, santun dalam bergaul, sopan dalam bersikap dan bertutur kata, harus kita tunjukkan kepada dunia internasional. Jangan sampai, kita yang termakan gaya hidup individualis, egois, dan materalis. Semua ini tidak ada dalam khazanah budaya Indonesia,” tegasnya.

Fatwa kemudian mengkritik pola hidup masyarakat perkotaan yang kini cenderung individualis dan tertutup. Menurutnya, masyarakat perkotaan yang sibuk dengan rutinitas kerja, acapkali tidak punya waktu untuk bergaul dengan tetangga dan orang-orang di sekitarnya. “Mereka terjebak dalam komunitas-komunitas tertentu, namun lupa dengan tetangga di kanan kirinya. Misalnya, komunitas teman sekantor, komunitas teman seprofesi, komunitas pengguna kendaraan tertentu, hingga komunitas pencinta hoby tertentu. Sayangnya, mereka tidak kenal dengan tetangga di kanan kirinya. Padahal jika terjadi sesuatu, tetangga adalah orang pertama yang pasti dimintai tolong, bukan teman-teman komunitasnya itu. Nah, pola hidup seperti inilah yang harus kita hilangkan.”

Mantan wakil ketua DPR RI periode 1999-2004 ini menghimbau agar tokoh-tokoh masyarakat, khususnya yang tinggal di Kecamatan Johor Baru, untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan menciptakan keamanan, agar peristiwa tawuran antarwarga yang kerap terjadi di wilayah itu, tidak terulang lagi. “Mari kita jaga lingkungan kita ini agar tawuran yang tidak pernah jelas penyebabnya, tidak terjadi lagi di masa-masa yang akan datang. Kita sendiri yang rugi,” pungkasnya.[UL]